Selasa, Agustus 25, 2009

Mengenal Meteorit...

Serangan besar-besaran dari luar angkasa ke Bumi bukanlah hal asing. Setiap hari serangan dari luar angkasa selalu terjadi, tidak percaya? Dalam sehari sekitar 100 – 1.000 ton materi meteorit menghantam Bumi. Materi-materi yang berbentuk debu sampai dengan objek berukuran beberapa kilometer, bergerak memasuki Bumi dengan kecepatan lebih dari 11 km/det.
Objek-objek yang lebih besar lagi akan mengalami perlambatan setelah memasuki atmosfer Bumi, namun tetap saja akan menghantam Bumi dengan kecepatan tinggi. Atmosfer Bumi akan menyebabkan materi permukaannya meleleh dan kerak pun mulai terbentuk. Selain itu ada juga yang terpecah-pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang kemudian berubah menjadi hujan meteor. Objek-objek yang kecil ini pada akhirnya bisa tiba di Bumi dengan selamat tanpa mengalami perubahan apapun.
Pembagian meteorit
Dalam hal penemuan, meteorit terbagi atas dua kelompok yakni falls dan finds. Kelompok falls adalah kelompok meteorit yang terlihat jatuh dan ditemukan sesaat setelah kejatuhannya di permukaan Bumi. Sementara kelompok finds merupakan kelompok objek yang ditemukan dan dikenali sebagai meteorit, yang telah jatuh di Bumi puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Meteorit besi jauh lebih banyak ditemukan dalam kelompok finds. Bagi para peneliti planet, meteorit yang paling berharga adalah golongan falls yang ditemukan segera setelah jatuh ke Bumi, karena kontaminasi yang alami akibat cuaca dan lingkungan masih sangat minim.
Bagaimana sebuah objek dikenali sebagai meteorit?
Sebuah objek yang jatuh di Bumi tidak akan terlindungi dari pengaruh cuaca. Akibatnya, permukaan objek tersebut akan mengalami pengikisan sehingga pada akhirnya sulit dibedakan dari batuan di sekitarnya. Tetapi di sisi lain, bongkahan besar besi tidak sering ditemukan di permukaan Bumi. Jika ada objek besi yang rapat dan padat dengan penampakan yang gelap ditemukan, bisa dipastikan objek tersebut merupakan bongkahan batu meteorit. Selain itu, perubahan akibat pengaruh cuaca pada objek besi tidak akan sama dengan batuan biasa serta ia akan tetap mempertahankan kondisi aslinya dalam selang waktu yang lebih lama. Faktor-faktor yang dipakai untuk mengidentifikasi sebuah meteor adalah objek tersebut sejauh mungkin bisa mempertahankan penampakan dan kondisi aslinya serta bisa bertahan dalam lingkungannya.
Ada dua tipe daerah di mana meteorit finds ini berada yakni, di gurun dan Antartika. Di gurun, proses perubahan akibat cuaca berlangsung dengan lambat sehingga meteorit akan dapat mempertahankan kondisi awalnya dalam waktu yang lama. Sementara itu di Antartika yang memiliki lapisan es yang tebal (sekitar beberapa km), objek silikat ataupun besi yang berada di dekat permukaan bisa dipastikan merupakan meteorit.
Meteorite sendiri dibagi atas 3 kelas yakni stony meteorite , stony-iron meteorites, dan iron meteorites.

Stony Meteorites (Meteorit Batuan)




































Dari seluruh meteorites, 93% diantaranya adalah stony meteorites. Ada dua tipe utama dari stony meteorite – chondrites dan achondrites – yang memiliki perbedaan satu sama lainnya baik secara fisik maupun kimiawinya. Chondrules terbentuk dari batuan silikat cair, dan salah satu tipe penting dalam chondrite adalah carbonaceous chondrite. Meteorit tipe ini mengandung senyawa carbon, air, dan materi volatil lainnya dan memiliki warna yang agak gelap.
Achondrites tidak memiliki chondrules dan secara tampak tidak terlihat adanya logam atau sulfida logam. Penampakannya juga mirip dengan batuan di permukaan bulan dan planet kebumian. Umur batuannya sekitar 4,5 miliar tahun, batuan yang lebih muda umurnya diperkirakan berasal dari materi yang dilontarkan dari permukaan Mars.

Stony-Iron Meteorites (Meteorit Batuan-Besi)


































Meteorit jenis ini mengandung batuan dan besi dalam proporsi perbandingan yang hampir sama. Skenario paling memungkinkan bagi terbentuknya meteorit jenis ini adalah mereka terbentuk pada daerah pertemuan objek padat yang dingin. Pada daerah ini terdapat juga pemisahan antara logam dengan kerapatan tinggi dan batuan yang memiliki kerapatan lebih rendah. Salah satu tipe meteorit ini, mesosiderites, mengandng mineral yang stabil pada tekanan dibawah 3kbar. Ini menunjukkan meteorit jenis ini secara tidak langsung berasal dari objek yang masif.

Iron Meteorites (Meteorit Besi)




































Sebagian besar meteorit jenis ini terdiri dari campuran besi dan nikel yang berada dalam keadaan cair.
Batu-batu yang jatuh ke Bumi ini berasal dari berbagai tempat di Tata Surya dan merekalah yang menjadi salah satu sumber informasi penting untuk memperoleh gambaran yang lebih baik tentang keadaan dan apa saja yang ada pada objek induknya. Informasi mengenai objek induk dari meteorit diperoleh dengan menganalisis isotop oksigen dalam mineral yang ada di meteorit tersebut. Sebagian mineral hanya bisa terbentuk pada tekanan yang tinggi sementara sebagian lagi justru tidak stabil pada tekanan tinggi. Melalui informasi mineral bisa diketahui tempat dan kira-kira pada kondisi tekanan yang bagaimana sebuah meteorit terbentuk. Salah satu cara terbentuknya mineral pada tekanan tinggi yaitu ketika meteorit mengalami kejutan akibat tabrakan. Biasanya kondisi sebuah meteorit yang dihasilkan akibat tabrakan mudah untuk dikenali karena meninggalkan tanda pada batuan akibat tabrakan tersebut.
Dengan mempelajari kemiripan ataupun perbedaan yang ditemukan dalam materi terrestrial ini, bisa diperoleh informasi penting untuk mempelajari asal usul Bumi dan Tata Surya dalam hal ini untuk mengetahui materi-materi awal pembentukan planet.

Tidak ada komentar: